kompas bilang gini...
JAKARTA, JUMAT - Pendidikan Indonesia dinilai semakin mengkhawatirkan akibat bersikerasnya pemerintah menggelar ujian nasional yang ternyata banyak menimbulkan ekses negatif.
Pendidikan mengalami hambatan dari sisi pengembangan moralitas dan pengembangan akhlak mulia anak didik, menciptakan rasa tidak nyaman, ketakutan, serta tidak menyenangkan bagi peserta didik. Karena itu, ujian nasional harus dievaluasi secara adil supaya pembenahan pendidikan di Indonesia bisa benar-benar dilakukan.
Hal ini dikemukakan dalam pertemuan Education Forum di Jakarta, Jumat (9/5). Dalam pernyataannya, Education Forum meminta DPR memanggil Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo untuk menjelaskan berbagai dampak negatif kebijakan UN.
Selain itu, Mendiknas diminta untuk segera menyiapkan revisi PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang dipakai sebagai acuan melaksanakan UN."Banyaknya dampak negatif pelaksanaan UN seharusnya membuka mata pemerintah untuk mengevaluasi penyelenggaraannya. Apalagi pengadilan tinggi pun sudah meminta pemerintah bersikap adil dengan memenuhi standar nasional pendidikan dulu baru mengevaluasi," kata Erlin Driyana, Wakil Koordinator Education Forum.
Menurut Erlin, tanpa UN sebenarnya mutu pendidikan tetap bisa meningkat. Ini terjadi pada Finlandia yang terkenal memiliki sistem pendidikan yang bagus di dunia internasional."Yang justru dibenahi adalah input dari pendidikan itu sendiri. Evaluasi itu beragam caranya dan bukan satu-satunya cara menentukan mutu pendidikan," kata Erlin.-------------------------------------------------------------------------------------------------
Bagaimana menurutmu ?? sudah adilkah pemerintah ??

1 komentar:
Iya bener, memang ada ketidak adilan. Hal ini gak terlihat langsung sih. Harusnya Ujian Nasional emang gak jadi penentu kelulusan, tapi sekedar buat evaluasi aja. Mana sekolah yang butuh tampbahan suport.
Kalau ada teman2x yang misalnya gagal UN, se-bermasalah apapun mereka dalam akademis, mereka punya hak untuk memperoleh pendidikan dan untuk 'tidak ditinggal dibelakang'.
Kenyataannya 'dicap'gagal ini tidak mendapat suport apapun dari pemerintah (apalagi kalau tidak punya uang).
Nah, akibatnya banyak diantara anak2x ini yang akhirnya malah putus sekolah. Padahal kegagalan ini gak selalu kesalahan murid. Ngak selalu karena murid malas (walau ada juga yang ia). Kadang mereka memang tidak terfasilitasi dengan baik, buku gak punya, guru 1 ngajar di banyak kelas.
Salam
Posting Komentar